• Akreditasi HKI
  • PMB 25

Sidang Tesis di UIN Gusdur, Muhammad Yahya Angkat Reinterpretasi Makna Nusyûz dalam Hukum Perkawinan

13 Maret 2026

PEKALONGAN – Pascasarjana UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan kembali menyelenggarakan sidang tesis bagi mahasiswa Program Studi Magister Hukum Keluarga Islam (MHKI). Sidang dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026, pukul 07.30–09.00 WIB Via Zoom di hadapan majelis ujian munaqosah Pascasarjana.

 

Mahasiswa yang menjalani sidang adalah Muhamad Yahya (NIM. 50124006) dengan judul tesis “Reinterpretasi Pergeseran Makna Nusyuz dalam Hukum Perkawinan dalam Pandangan Dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.”

Tesis ini mengangkat persoalan reinterpretasi konsep nusyûz dalam hukum keluarga Islam yang selama ini sering dipahami secara sepihak dan bersifat patriarkal, yaitu menempatkan istri sebagai objek pembangkangan sementara suami diposisikan sebagai pemegang otoritas penuh. Menurut Yahya, pemahaman tersebut dinilai tidak lagi sepenuhnya relevan dengan dinamika sosial masyarakat kontemporer yang semakin menuntut keadilan gender dan relasi keluarga yang lebih setara.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana para dosen di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan memahami kembali konsep nusyûz serta bagaimana implikasinya terhadap arah pembaruan hukum perkawinan di Indonesia. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hukum empiris dan doktrinal, serta memanfaatkan kerangka analisis mubādalah, yaitu pendekatan yang menekankan relasi timbal balik antara suami dan istri dalam kehidupan rumah tangga.

Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran makna nusyûz yang cukup signifikan. Pergeseran tersebut meliputi perubahan subjek dari yang sebelumnya hanya dilekatkan kepada istri menjadi dapat dilakukan oleh suami maupun istri; perubahan makna dari sekadar pembangkangan menjadi gangguan relasi dalam rumah tangga; perubahan pola relasi dari yang bersifat hierarkis menuju relasi yang lebih egaliter; serta perubahan pendekatan penyelesaian konflik dari pola disipliner menuju dialog, mediasi, dan keadilan relasional.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa pemahaman nusyûz tidak lagi diposisikan semata sebagai ketidaktaatan istri, melainkan sebagai bentuk pelanggaran relasional dalam keluarga yang dapat muncul akibat pengabaian tanggung jawab oleh salah satu pihak. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan prinsip kesetaraan hak antara suami dan istri, penolakan terhadap legitimasi kekerasan dalam rumah tangga, serta kecenderungan penyelesaian konflik melalui pendekatan dialogis dan konseling keluarga.

Dalam kesimpulannya, Yahya menegaskan bahwa reinterpretasi nusyûz berbasis pendekatan mubādalah merupakan langkah penting untuk mewujudkan hukum keluarga Islam yang lebih adil, kontekstual, dan responsif terhadap perubahan sosial. Penelitian ini juga merekomendasikan perlunya peninjauan kembali terhadap beberapa ketentuan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) agar tidak lagi menimbulkan implikasi diskriminatif terhadap perempuan.

Sidang tesis ini diuji oleh tim penguji yang terdiri dari Prof. Dr. H. Makrum, M.Ag sebagai Ketua Sidang, Dr. Ahmad Muchsin, S.H.I., M.Hum sebagai Penguji Utama, Dr. Bagas Mukti Nasrowi, M.H.I sebagai Penguji Anggota, serta Dr. Taufiqur Rohman, M.Sy sebagai Sekretaris.

Melalui penelitian ini, Yahya berharap kajiannya dapat memberikan kontribusi akademik bagi pengembangan hukum keluarga Islam yang lebih berkeadilan gender, sekaligus menjadi referensi bagi akademisi, praktisi hukum, dan pembuat kebijakan dalam merespons dinamika sosial masyarakat Indonesia.

 

Reporter: Taufiqur Rohman
Redaksi : Humas Pascasarjana UIN Gusdur

Galeri Video

No data displayed on the module. Please check some parameters in the module settings again!
We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree