Konferensi ini mempertemukan tokoh nasional, akademisi, dan aktivis untuk menghidupkan kembali gagasan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam menjawab tantangan bangsa, mulai dari pluralisme, demokrasi, keadilan sosial, hingga isu kontemporer seperti krisis lingkungan, ekoteologi, dan pengelolaan sampah.
Hadir sebagai narasumber utama, antara lain Neng Alissa Wahid (Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia), Prof. Dr. Sahiron (Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI), dan Dr. Marzuki Wahid (aktivis sosial). Dalam salah satu sesi pleno, Prof. Sahiron menegaskan pentingnya ekoteologi sebagai tafsir keagamaan yang berpihak pada kelestarian bumi: “Krisis lingkungan adalah tantangan nyata. Menghidupkan pemikiran Gus Dur berarti juga melanjutkan perjuangan merawat bumi,” tegasnya.


Terinspirasi dari diskusi akademis tersebut, Dr. Taufiqur Rohman menyampaikan konsep Kurikulum Cinta, sebuah gagasan pendidikan yang berfokus pada empat substansi utama:
Relasi dengan Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Pendidikan diarahkan untuk menanamkan kesadaran bahwa ibadah bukan sekadar ritual, melainkan manifestasi cinta dan syukur kepada Sang Pencipta. Nilai Rahman dan Rahim menjadi fondasi moral yang menumbuhkan kebaikan kepada sesama dan alam semesta.
Relasi dengan Sesama Manusia.
Kurikulum ini menekankan empati, toleransi, dan persaudaraan lintas agama, budaya, dan etnis. Kasih sayang menjadi pondasi untuk membangun masyarakat yang harmonis, jauh dari kebencian dan konflik.
Relasi dengan Lingkungan.
Mahasiswa ditanamkan kesadaran ekologis bahwa manusia adalah khalifah di bumi. Tindakan menjaga kebersihan, menghemat energi, dan menanam pohon dipandang sebagai bentuk ibadah dan manifestasi cinta kepada ciptaan Tuhan.
Relasi dengan Negara (Nasionalisme).
Cinta tanah air dipahami sebagai bagian dari iman. Kurikulum ini menanamkan kesadaran bahwa menjaga persatuan bangsa dan berkontribusi dalam pembangunan merupakan tanggung jawab moral sekaligus spiritual.
“Kurikulum cinta berarti menghadirkan nilai kasih sayang dalam seluruh aspek pembelajaran. Pendidikan tidak cukup hanya membekali keterampilan teknis, tetapi harus menumbuhkan kesadaran spiritual, kepedulian sosial, tanggung jawab ekologis, dan jiwa nasionalisme,” ungkap Dr. Taufiqur Rohman.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya praktik nyata di lingkungan kampus. Salah satunya melalui program pengelolaan sampah dan pembelajaran berbasis ekoteologi yang menjadikan kampus sebagai laboratorium sosial bagi mahasiswa untuk menginternalisasi Kurikulum Cinta.
Senada, Neng Alissa Wahid menyatakan bahwa jika Gus Dur hidup pada masa kini, beliau pasti akan menjadi pembela lingkungan. “Membela manusia tidak bisa dipisahkan dari membela bumi tempat manusia berpijak,” ujarnya. Adapun Dr. Marzuki Wahid menekankan bahwa konsep keadilan sosial yang diperjuangkan Gus Dur sejalan dengan keadilan ekologis, mencakup energi bersih, konsumsi berkelanjutan, dan pengelolaan sampah.
Konferensi ini ditutup dengan rekomendasi konkret: mengintegrasikan nilai-nilai Gus Dur ke dalam kurikulum pendidikan Islam, memperkuat gerakan mahasiswa peduli lingkungan, serta memperluas kolaborasi antaruniversitas. Kehadiran Kaprodi MHKI dalam forum nasional ini menegaskan komitmen UIN Gus Dur Pekalongan untuk melahirkan pendidikan yang berlandaskan cinta, keadilan sosial, dan kepedulian ekologis, sesuai dengan warisan pemikiran Gus Dur.
Reporter: Kholil said Redaksi : Humas Pascasarjana UIN Gusdur